Opini Detail

Meneladani Malahayati dalam Gerakan Perempuan NasDem

Meneladani Malahayati dalam Gerakan Perempuan NasDem

  • 03 Januari 2019
  • 1918

Oleh: Nico Ainul Yakin*


POSISI perempuan secara politik memiliki peran yang sangat strategis. Undang-undang telah memberikan kemudahan akses (aksesibilitas), terutama bagi perempuan yang ingin menjadi anggota legislatif di semua level kedewanan. Kemudahan akses tersebut tercermin dalam sebuah kebijakan yang mengharuskan partai politik (parpol) menyertakan keterwakilan perempuan minimal 30% dalam pendirian  dan kepengurusan, serta pencalegan.


Kebijakan tersebut diperkuat lagi dengan menerapkan Zipper System yang mengatur bahwa setiap tiga bakal calon terdapat sekurang-kurangnya satu perempuan. Kebijakan ini bertujuan untuk menghindari dominasi laki-laki dalam lembaga-lembaga politik yang merumuskan kebijakan.


Namun aksesilibilitas di atas belum dimanfaatkan secara optimal karena masih adanya kendala psikologi, kultural dan politik yang menghambat kemajuan perempuan. Rendanya keterwakilan perempuan di lembaga legislatif dapat dilihat dari hasil Pemilu 2014, yakni DPR RI (17,32%), DPRD Provinsi (16,15%), dan DPRD Kab/Kota (14,15%).

 

Atas dasar pemikiran tersebut, DPW Partai NasDem Jatim, menggelar seminar sekaligus pembekalan terhadap caleg perempuan NasDem yang akan berlaga di Pemilu 2019 ini. Seminar dengan tema: “Perempuan NasDem bukan Pelengkap Kuota” diadakan di Auditorium Bappilu Partai NasDem Jatim pada 15 Desember 2018, menghadirkan nara sumber berkompeten di bidangnya, yaitu: Irma Suryani Chaniago (Ketua DPP Partai NasDem dan Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf Amin); Maria Ulfah Anshor (Aktivis Perempuan NU; Anis Hidayah (Aktivis HAM dan pendiri Migrant Care); Ciciek Farha (Aktivis Perempuan dan Pekerja Kemanusiaan); dan Pinky Wisnubroto  (Aktivis Perempuan dan Akademisi). 

 

Kegiatan yang dibuka oleh Ketua DPW Partai NasDem Jatim, Jeannette Sudjunadi itu terasa sangat istimewa karena di tengah-tengah acara berlangsung Imam politik Partai NasDem, H Surya Paloh hadir memberikan support sekaligus memberikan pengarahan di hadapan ratusan caleg perempuan NasDem se-Jatim.


Caleg Perempuan NasDem Bukan Pelengkap Kuota


Dalam kata sambutannya, Ketua DPW Jatim menyampaikan bahwa kedudukan caleg perempuan NasDem bukan semata pelengkap kuota 30 persen, bukan pula aksesoris dan kembang meja bagi sederetan nama-nama caleg yang ada, tetapi mereka akan dijadikan sebagai tokoh yang dapat memperjuangkan masalah-masalah riil di masyarakat dengan gerakan perubahan yang lebih konkret.


Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Partai NasDem, H Surya Paloh memberikan beberapa catatan penting tentang keberpihakan NasDem terhadap perempuan, antara lain: (i) NasDem membuka ruang politik yang sangat lebar bagi kader perempuan untuk mengembangkan karier politiknya; (ii) gender bukan menjadi masalah bagi kaum perempuan. Menurutnya, dalam beberapa kesempatan perempuan bisa membuktikan bahwa dirinya tidak kalah dengan laki-laki. Perempuan punya kemampuan dan profesional dalam memanag profesi apapun; (iii) moralitas perempuan lebih baik dibandingkan dengan laki-laki. Parameternya jelas, yang lebih banyak masuk penjara adalah laki-laki dibandingkan perempuan; (iv) perempuan memiliki tingkat ketelitian yang tinggi dibandingkan laki-laki, sehingga lebih akuntabel.


Ke empat poin penting ini, menjadi alasan bagi NasDem untuk menempatkan perempuan pada posisi strategis dalam konteks politik. Bagi NasDem, Indonesia mendatang akan dihadapkan kepada sejumlah isu strategis dan agenda krusial yang semakin kompleks. Dengan begitu maka peran serta perempuan dalam konteks pembangunan demokrasi menjadi sebuah keniscayaan.


Malahayati Sebagai Inspirasi


Menyikapi tentang posisi strategis perempuan dalam politik, ingatan kita terbawa ke masa lalu akan ketokohan dan keteladanan Laksamana Malahayati, seorang tokoh perempuan pejuang asal Aceh yang namanya diabadikan sebagai nama organisasi sayap politik NasDem, yakni Garnita Malahayati. 

 

Nama lengkapnya adalah Keumalahayati yang kemudian terkenal dengan sebutan Malahayati. Dalam dirinya mengalir darah pejuang tokoh-tokoh Kesultanan Aceh di masa lalu. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah, sedangkan kakeknya dari garis keturunan ayahnya adalah Laksamana Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Aceh sekitar tahun 1530-1539 M.  Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.


Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa  Malahayati yang baru saja dianugerahi gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional merupakan Laksamana wanita pertama di dunia pelayaran modern. Pada tahun 1585-1604 ia memegang jabatan strategis di Kesultanan Aceh Darussalam sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana, Panglima Rahasia dan Panglima Protokol pemerintah Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV. 


Malahayati adalah Panglima Perang yang memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda syuhada) berperang melawan penjajah. Ketangguhan Malahayati dan pasukannya membuat armada Portugis bisa dipukul mundur di abad 16. Mereka  juga berhasil membunuh utusan Belanda, Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal.


Kehebatan Malahayati di¥ lautan membuat namanya dikenal di sejumlah negara di dunia. Selain Belanda, Portugis dan Inggris, nama Malahayati juga terdengar sampai ke negeri Tiongkok. Sejumlah sejarawan mensejajarkan namanya dengan tokoh perempuan pejuang, bernama Katerina Agung, seorang Maharani Rusia yang berkuasa selama 34 tahun (1762-1796).


Malahayati  gugur mengharumkan nama bangsa dalam pertempuran melawan armada Portugis yang dipimpin Alfonso de Castro. Jasad Malahayati dikebumikan di lereng bukit Gampong, Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.


Selain mendapat gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional, nama Malahayati banyak diabadikan sebagai nama jalan di berbagai wilayah di Indonesia. Nama Malahayati juga diabadikan sebagai nama Pelabuhan  di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar, nama kapal perang jenis perusak kawal berpeluru kendali (fregat) kelas Fatahillah milik TNI AL, nama perguruan Tinggi di Bandar Lampung, serial film, dan nama organisasi sayap perempuan Partai NasDem.


Keteladanan Malahayati


Nama Malahayati yang dipakai sebagai nama organisasi sayap politik Partai NasDem memiliki makna historis yang sangat dalam. Perempuan Partai NasDem diharapkan dapat meneladani ketokohan dan kegigihan Malahayati dalam mempertahankan prinsip perjuangannya, membela Tanah Air dan hak-hak kemanusiaan menghadapi segala macam ketidakadilan.


Keteladanan Malahayati sangat komprehensif mencakup dimensi kemanusiaan, kebangsaan dan transendental (ketuhanan).

  

Ketiga dimensi di atas merupakan prinsip dasar ketokohan Malahayati yang mampu mendobrak ambisi dan kepongahan manusia yang lain untuk menguasai kedaulatan Tuhan di bumi. 


Perempuan NasDem jangan hanya menjadikan Malahayati sebagai simbol organisasi, tetapi prinsip-prinsip perjuangannya harus diwarisi sebagai spirit dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, kebangsaan dan ketuhanan dalam bingkai gerakan perubahan restorasi Indonesia. Semoga arwah beliau senantiasa mendapatkan tempat yang layak di surga-Nya. Amin.


*Nico Ainul Yakin, Wakil Ketua Bidang OKK dan Sekretaris Bappilu Partai NasDem Jatim

,